Ahad, 30 Disember 2012


Jom dengar ceramah dari ustaz haslin.....best sangat...:)



PERGAULAN ANTARA LELAKI DAN PEREMPUAN.....

Sahabat mempunyai kedudukan yang begitu khusus dalam hati seseorang. Apa masalahnya apabila seseorang itu bersahabat dengan lawan jenisnya? Bolehkah kita bersahabat dengan jejaka atau sebaliknya?

 Apabila berlaku persahabatan antara lelaki dan wanita sesungguhnya tidak akan ada jaminan hubungan ini benar-benar tulus dan murni. Sekurang-kurangnya, pasti ada harapan dan rasa memiliki. Tidak kira pada si jejaka atau wanita atau kedua-duanya sekali. Mesti ada kemungkinan walau pun pada kadar yang sedikit. Hubungan seumpama ini mempunyai batas atau dinding yang teramat nipis. Terlalu sukar dan rumit untuk membezakan adakah hubungan ini benar-benar sekadar persahabatan atau sudah mula menjurus kepada saling mencintai yang mengharapkan wujudnya hubungan hati dan fizikal. Suatu yang amat sukar dihindari untuk suka yang lebih dari sekadar sahabat. Maka mulalah si jejaka atau wanita itu mengangan-angankan “Kalaulah dia menjadi pendamping dalam hidupku”. Ketika inni sesungguhnya “tazyin syaitan” telah berjaya memainkan peranannya. Bisikan indah dari musuh utama dan pertama (syaitan) telah merempuh masuk ke dalam hati yang telah sedia ada dalam keadaan lemah dan longgar pertahanannya.

 Berhentikan Proses Seterusnya!

 Oleh itu, para muslimin dan muslimat yang dihormati, jika perkenalan kita sudah berubah menjadi simpati segeralah disusuli dengan pernikahan jika mahu proses persahabatan berlanjutan. Inilah persahabatan yang ideal. Manakala persahabatan di luar akad pernikahan bukanlah persahabatan ala sahabat (Rasulullah SAW).

 Sebagaimana yang terjadi antara Ali dan Fatimah. Setelah pernikahan antara Ali dan Fatimah, maka Fatimah pun berterus terang kepada Ali. “Wahai Ali, sebelum aku bernikah dengan engkau di Kota Mekah ini, ada seorang pemuda yang menjadi idola di hatiku. Aku sangat inginkan kelak dia menjadi suamiku. Tapi semuanya itu aku simpan di dalam hatiku.” Kata Fatimah. “Kalau begitu engkau menyesal menikahi aku? Tanya Ali. “Tidak, kerana pemuda itu adalah engkau.” Jawab Fatimah.

 Oleh itu, di dalam Islam kita dibenarkan menilai dan menyukai pemuda yang soleh namun ia tidak diluahkan dan memadai disimpan di dalam hati. Sesungguhnya cinta itu boleh ‘menghinggapi sesiapa sahaja’ termasuk orang yang beriman atau para pendakwah. Apabila batas-batas pergaulan dan percampuran antara lelaki dan perempuan dilanggar, proses persahabatan sebegini akan terus bergulir dan tak mungkin dihindari. Oleh itu tidak mustahil jika para pendakwah lelaki dan perempuan juga turut terjebak untuk saling rindu-merindui…..

 Sudah terlanjur digosipkan….

 Pengendalian diri ketika percampuran antara lelaki dan perempuan adalah suatu yang abstrak. Kita tidak mampu mengukurnya. Hanya Allah sahaja yang Maha Mengetahui. Adakalanya, kita berjauhan dari segi fizikal tetapi hati ‘berdegup’ hebat. Ada juga yang fizikalnya berdekatan tetapi hatinya biasa sahaja. Namun ini bukan bermakna kita dibolehkan untuk bergaul bebas.

 Bagaimana pula jika sudah terlanjur digosipkan, daripada fitnah, baik nikah sahaja. Inilah salah satu kesilapan besar. Ia bukanlah keputusan bijak. Tindakan yang diambil dengan menikahi rakan tersebut akan membenarkan sangkaan dan tohmahan orang selama ini. Tindakan sewajarnya yang mesti diambil adalah segera hentikan hubungan tersebut. Jauhilah fitnah dengan mengendalikan hati, namun ketika hati tak terkendalikan jagalah jarak fizikal. Hindarilah perkara-perkara yang mengundang fitnah seperti memberikan hadiah, sering berdua-duaan, sering telefon dan seumpamanya.


 Jangan Terperangkap

 Hati manusia memang mudah berubah. Pagi kata benci petang pula kata rindu. Sesungguhnya hati merupakan bejana yang paling penting. Ia merupakan kunci segala-galanya. Hati mestilah dikendali dengan sebaik-baiknya. Manakala pandangan pula titik langkah awal yang amat perlu diawasi kerana dari ‘mata jatuh ke hati’.

 Sebagaimana yang berlaku pada Ibnu Abbas, ketika menunaikan haji tergoda melihat seorang wanita, maka spontan Nabi SAW menegur dan memalingkan pandangannya dari wanita tersebut. Lalu bersabda:”Jangan kau ikuti pandangan itu dengan pandangan yang lain.”

 Ketika inilah peranan iman yang kuat serta aktiviti “tazkiyatun nafs” (penyucian jiwa) perlu dimainkan. Di saat iman sedang merudum, sebaik-baiknya, minimakanlah aktiviti yang melibatkan lawan jenis. Walaupun dalam aktiviti keislaman, yang perlu dijaga adalah diri dan keimanan bukan sekadar jarak sehingga tidak berkomunikasi. Ingatlah, jangan sekali-kali ketika mengibarkan bendera kegiatan Islam dalam masa yang sama menjatuhkan Islam.

 Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui kelemahan insan. Lalu Dia telah mengingatkan orang yang beriman serta umat Islam seluruhnya agar menjaga pandangan dengan firman-Nya: “Katakanlah kepada orang-orang beriman lelaki, supaya mereka menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang mereka usahakan. Katakanlah kepada orang-orang beriman perempuan, supaya mereka menjaga kehormatannya dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasannya, kecuali apa yang biasa lahir daripadanya…..” (an-Nur:31-32)

 Mencegah itu lebih baik dari mengubati. Jagalah batas-batas pergaulan agar tidak terlanjur memendam rasa. Berusahalah membataskan komunikasi dengan urusan-urusan yang penting, jangan sekali mencari alasan dan agenda untuk bertemu. Jangan sekali membuat agenda baru agar dapat berinteraksi kembali. Sesunguhnya jika ini tidak dikawal ia merupakan permulaan tidak berdisiplinnya kita dalam mengamalkan Islam.

Rabu, 26 Disember 2012

KUMPULAN KATA-KATA HIKMAH ISLAM


Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak boleh mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yg telah dicari (Khalifah Ali bin Abi Thalib)

Orang yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan, sampai bila-bilapun dia tidak akan menjadi orang yang berani (Khalifah Ali bin Abi Thalib)

Orang-orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal, kepercayaan, cinta, dan rasa hormat. (Khalifah Ali bin Abi Thalib)

Perkataan sahabat yg jujur lebih besar harganya daripada harta benda yg diwarisi darinenek moyang. (Khalifah Ali bin Abi Thalib)

Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yg telah dicari. (Khalifah Ali bin Abi Thalib)

Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. (Khalifah Ali bin Abi Thalib)

Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan jahat dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya terhadap kehormatan dirinya. (Khalifah Ali bin Abi Thalib)

Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan. (Khalifah Ali bin Abi Thalib)

Orang yang tidak menguasai matanya, hatinya tidak ada harganya (Khalifah Ali bin Abi Thalib)
Setiap kamu adalah pemimpin, yaitu : Pemimpin terhadap diri dan keluarganya, pemimpin terhadap masyarakat dan bangsanya.( Mousthafaal-Gholayaini).

Pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan umat, sedang pengkhianat yang paling keji yaitu pengkhianatan pemimpin. (Ali bin Abu Thalib).

Jika kamu berhadapan dengan gurumu, sesungguhnya secara hakikat kamu sedang berhadapan dengan rasul. Sadar akan hal itu, maka hormatilah gurumu. (Sebagian Ulama).

Berteman dengan orang yang bodoh yang tidak mengikuti ajakan hawa nafsunya sungguh lebih baik bagi kamu ketimbang berteman dengan orang alim tapi suka terhadap nafsuya. (Ibnu Athaillah as-Sakandari).

Cintai dan sayangilah para fakir miskin, maka Allah akan menyayangimu. (Nabi MUHAMMAD SAW).

Ya Allah! Seandainya Engkau akan mengadili kelak pada hari kiamat, maka jangan Kau adili aku di dekat (Nabi Muhammad SAW)

Tidak ada suatu kebahagiaan bagi ornag-orang muslim setelah mereka memeluk Islam, seperti kebahagiaan mereka ketika itu. (Anas r.a.).

Aku tidak pernah berdialog dengan seseorang dengan tujuan aku lebih senang jika ia berpendapat salah. (Imam Syafií).

Aku suka mendoákan saudara-saudaraku sebanyak 70 orang, dan nama-nama mereka kusebut satu persatu dalam panjatan doáku itu. (Abu Darba).

Siapa yang memenuhi hatinya dengan kewaspadaan dan keikhlasan, maka Allah akan menghiasi badannya sebagai pembela agama dan menjadikan hadits sebagai pedoman hidup.

Pangkal dari seluruh kebaikan di dunia maupun di akhirat adalah taqwa kepada Allah. (Abu Sulaiman Addarani).

Yang disebut dengan teguh hati adalah memegang dengan sungguh-sungguh apa-apa yang dibutuhkan oleh kamu dan membuang yang selain itu. (Aktssam bin Shaifi).

Ada dua hal tidak tertandingi kejelekannya, yaitu: Berbuat syirik dan membuat rugi umat Islam. Begitu pula, terdapat dua perkara yang tidak tertandingi kebaikannya, ialah : Beriman kepada Allah, serta memberi manfaat kepada umat Islam. (Kanjeng Nabi).

Hati-hatilah terhadap senda gurau, karena tidak sedikit bahaya yang terdapat didalamnya. Berapa banyak senda gurau anatara dua sahabat yang berakhir pada perkelahian.

Setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu, dan uangnya adalah pinjaman. Tamu itu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan. (Ibnu Mas’ud)

Saya tidak bangga dengan keberhasilan yang tidak saya rencanakan sebagaimana saya tidak akan menyesal atas kegagalan yang terjadi di ujung usaha maksimal. (Harun Al Rasyid)

Allah SWT memerintahkan kita untuk mau berpikir tentang penciptaan-Nya yang begitu menakjubkan, rumit, dan kompleks. Namun semua itu telah Allah SWT tundukan untuk kita. Ini sebagai tanda bahwa manusia memiliki kemampuan (dari Allah) untuk menundukan apa yang ada di langit dan di bumi. (MI)

Memohonlah kepada Allah supaya memperbaiki hati dan niatmu, karena tidak ada sesuatu yang paling berat untuk kau obati selain keduanya. Ketika hatimu sedang menghadap (Allah) maka seketika mungkin untuk berpaling, maka ketika menghadap itulah engkau harus merampasnya supaya tidak berpaling. (Uwais al Qarni/ Bahjatul Majalis, Ibnu Abdil Barr)




DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2012/03/kata-kata-hikmah-islam-penyejuk-jiwa.html#ixzz2GAFcHaEW

Selasa, 25 Disember 2012


BELAJAR:BAGAIMANA MENDAPAT KEBERKATAN...:)
Mungkin jarang antara kita yang tidak tahu tips-tips belajar daripada 'salafus soleh' terdahulu. Semua tahu bukan apa itu berkat?
Sesuatu yang tidak boleh dilihat, tetapi dengan berkat itu, kita boleh berasa tenang dan bahagia sentiasa walaupun separuh dunia berada di bahu kita.
TIPS BELAJAR
1) Sebelum belajar, niat bahawa aku belajar ini kerana Allah S.W.T.
Setiap kali mahu keluar bilik untuk pergi kuliah, sentiasa ingatkan diri, aku menuntut ilmu ni kerana Allah S.W.T. Banyak kelebihan bagi orang yang menuntut ilmu.
Jangan rasa tertekan jika kelas bermula seawal jam lapan pagi dan habisnya pula dalam pukul lima petang. Tetapi fikir bahawa sepanjang proses menuntut ilmu ini, Malaikat akan sentiasa mendoakan kita. Jadi, kita tidak akan rasa terlalu tertekan jika kelas itu tersangatlah lama.
2) Disiplinkan diri.
Setiap kali mahu study, mesti baca satu muka surat al-Quran sebelum bermula waktu study itu. Jadi, pasti kita tidak tinggalkan al-Quran walau sesibuk mana pun kita. Ustazah ada cerita satu kisah yang sangat memberi inspirasi.
Ada seorang budak perempuan di Arab Saudi yang mayatnya tidak hancur, walaupun sudah lebih dua tahun dia meninggal dunia. Ramai yang pelik kerana budak itu masih kecil, dalam umur 15 tahun. Jadi, ada yang pergi pada kedua ibu bapa budak itu dan bertanya, apakah amalan budak perempuan ini.
Ibunya menjawab, saya tidak tahu apa yang istimewa anak saya lakukan, cuma saya tahu dia sangat menjaga al-Quran. Setiap kali sebelum belajar, dia pasti akan baca satu muka surat ayat-ayat al-Quran, memang tidak pernah tinggal. Jadi, budak sekecil ini pun boleh baca satu muka surat setiap kali sebelum belajar, kita yang besar panjang ini mustahil tidak mampu bukan? Orang yang hebat tidak akan memberi alasan, tetapi dia sentiasa cari jalan.
3) Kembalikan caj-caj positif dalam diri supaya tiada ruang untuk Syaitan menghalang kita menuntut ilmu.
Apaila kita rasa tertekan kerana berkali-kali sudah membaca topik tersebut, tetapi tetap tidak faham, dan akhirnya, kita rasaputus asa dan terus tutup buku. Dan yang lebih bahaya, mind setting akan mengatakan topik ini sangat susah dan tidak menarik. Akhirnya, kita tinggalkan terus topik itu hingga akhirnya kelam kabut waktu menjelang peperiksaan.
Jadi, apa kata kita cuba tips daripada 'salafus soleh' terdahulu. Apabila ada sesuatu yang menghalang fokus, mereka pergi perbaharui wudhuk dan solat sunat dua rakaat.Jika kita seperti ini, sekurang-kurangnya dapat perbaharui wudhuk sudah memadai.
4) Utamakan seruan Allah S.W.T.
Part paling penting! Apabila sedang khusyuk study, tiba-tiba azan berkumandang. Berhentilah sebentar untuk menyahut seruan Allah S.W.T. Tidak lama pun solat ini. Jadikan ia sebagai terapi diri selepas penat belajar. Imam Ghazali ada mengatakan bahawa:
"Orang yang menyahut seruan azan dengan serta merta meninggalkan segala urusan untuk menunaikan solat berjema'ah, di akhirat kelak, dia akan dijemput oleh Allah S.W.T dengan penuh lemah-lembut dan menjadi tetamu-Nya."
Jadi, setiap kali rasa berat punggung mahu berhenti study untuk solat, ingat kembal, jika aku mahu dijemput oleh Allah S.W.T di Akhirat kelak, aku perlu utamakan solat dahulu daripada kerja lain. Mana kita tahu bukan, kita lagi rasa mudahapabila belajar selepas selesai solat itu. Inilah namanya berkat. Apabila kita utamakan Allah S.W.T daripada benda lain.
5) Jangan lupa membaca doa dan ambillah wudhuk sebelum mula belajar.

Doa mohon Allah S.W.T memberi kekuatan dalam menuntut ilmu. Apabila kita ada wudhuk ini, kita akan sentiasa ingat bahawa belajar ini adalah satu ibadah yang sangat dituntut dalam Islam dan memudahkan lagi untuk kita terus solat jika sedang belajar, tiba-tiba azan. Kita tidak tahu dengan wudhuk itu, kita belajar lebih berkat.
.............................................................
Kesimpulannya, selamat beramal. Cubalah praktis tips belajar ini, matlamat kita bukanlah cemerlang dalam belajar semata, tetapi kita juga mahu keberkatan daripada Allah S.W.T.Ihfazillah yahfazka, ihfazillah tajidhu tijaahak (Jagalah Allah, nescaya Allah menjagamu).
Jadilah seperti Rasulullah S.A.W dan para sahabat yang hidupnya seimbang dunia akhirat, walaupun sibuk di medan perang dan sibuk mentadbir negara. Mereka lagi sibuk daripada kita, tetapi masih ada waktu untuk bangun tahajjud dan membaca al-Quran.
Buat pemburu dunia, jangan pula kita memberi alasan, mereka tidak sama macam kita, Iman mereka mantap kerana Rasulullah S.A.W ada di sisi. Kita tidak sehebat mereka. Andai itulah pemikiran kita, percayalah, selamanya kita akan menunduk ke bawah tanpa mendongak langit yang cerah di atas.

Isnin, 24 Disember 2012

WAHAI DIRI.......
Hidup ini tidak pernah lari dari dugaan Allah,selangkah kita berjalan Allah dah letak ujian yang bakal ditempuh, sedikit kita berfikir, Allah curah setitik prasangka dalam hati, semua itu adalah ujian Allah terhadap setiap hambanya, tak terkecuali seorang pun daripada kita,kita selalu tanya, kenapa Allah uji macam ni???,tapi kita tidak pernah kata yang kita ni benar2 bersyukur diuji, Allah dah pesan, apa2 pun berbalik pada-NYA, pasti ada hikmah disebaliknya, ingat...bila hati berjuang kerana Allah,dugaan itu tempat bersinggah, derita ditelan sebagai juadah, keimanan digenggam seutuh akidah, kasih disulam sebagai mahmudah, pasti taqwa hanya pada yang Esa.
 

Sunday, September 19, 2010

Mencari Ketenangan Hati


Sahabat yang dikasihi Allah,
Ketenangan itu dicapai melalui zikrullah. Namun zikrullah yang bagaimana dapat memberi kesan dan impak kepada hati? Ramai yang berzikir tetapi tidak tenang. Ada orang berkata, “ketika saya dihimpit hutang, jatuh sakit, dicerca dan difitnah, saya pun berzikir. Saya ucapkan subhanallah, alhamdulillah, Allah hu Akbar beratus-ratus malah beribu-ribu kali tetapi mengapa hati tidak tenang juga?”

Zikrullah hakikatnya bukan sekadar menyebut atau menuturkan kalimah. Ada bezanya antara berzikir dengan “membaca” kalimah zikir. Zikir yang berkesan melibatkan tiga dimensi :
1. Dimensi lidah (qauli), 
2. Hati (qalbi) dan 
3. Perlakuan (fikli). 
Mari kita lihat lebih dekat bagaimana ketiga-tiga dimensi zikir ini diaplikasikan.
Kita mengucapkan subhanallah – ertinya Maha Suci Allah. Itu zikir qauli. Namun, pada masa yang sama hati hendaklah merasakan Allah itu Maha Suci pada zat, sifat dan af’al (perbuatannya). Segala ilmu yang kita miliki tentang kesucian Allah hendaklah dirasai bukan hanya diketahui. Allah itu misalnya, suci daripada sifat-sifat kotor seperti dendam, khianat, prasangka dan sebagainya.

Dimensi kata, rasa dan tindakan
Jika seorang hamba yang berdosa bertaubat kepada-Nya, Allah bukan sahaja mengampunkannya, malah menghapuskan catatan dosa itu, bahkan menyayangi dan memberi “hadiah” kepadanya.
Firman Allah maksudnya :
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…”
(Surah At Tahrim ayat 8)

Firman Allah lagi:
“… Sungguh, Allah menyukai orang yang taubat dan menyukai orang yang menyucikan diri” 
(Surah Al-Baqarah ayat 222).

Sifat ini berbeza sekali dengan kita manusia yang kekadang begitu sukar memaafkan kesalahan orang lain. Dan segelintir yang mampu memaafkan pula begitu sukar melupakan . Hendak memberi hadiah kepada orang yang bersalah mencaci, memfitnah dan menghina kita? Begitulah kotornya hati kita yang sentiasa diselubungi dendam, prasangka dan sukar memaafkan. Tidak seperti Allah yang begitu suci, lunak dan pemaaf. Jadi, apabila kita bertasbih, rasa-rasa inilah yang harus diresapkan ke dalam hati. Ini zikir qalbi namanya.

Tidak cukup di tahap itu, zikrullah perlu dipertingkatkan lagi ke dimensi ketiga. Hendaklah orang yang bertasbih itu memastikan perlakuannya benar-benar menyucikan Allah. Ertinya, dia melakukan perkara yang selaras dengan suruhan Allah yang Maha Suci dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Yang halal, wajib, harus dan sunat dibuat. Manakala yang haram dan makruh ditinggalkannya. Zina, mengumpat, mencuri, memfitnah dan lain-lain dosa yang keji dan kotor dijauhi. Bila ini dapat dilakukan kita telah tiba di dimensi ketiga zikrullah – zikir fikli! 

Sekiranya ketiga-tiga dimensi zikrullah itu dapat dilakukan, maka kesannya sangat mendalam kepada hati. Sekurang-kurang hati akan dapat merasakan empat perkara:

Rasa kehambaan.
Rasa bertuhan.
Memahami maksud takdir.
Mendapat hikmah di sebalik ujian.

Hati adalah sumber dari segala-galanya dalam hidup kita, agar kehidupan kita baik dan benar, maka kita perlu menjaga kebersihan hati kita. Jangan sampai hati kita kotori dengan hal-hal yang dapat merosak kehidupan kita apalagi sampai merosak kebahagiaan hidup kita di dunia ini dan di akhirat nanti. Untuk menjaga kebersihan hati maka kita juga perlu untuk menjaga penglihatan, pendengaran, fikiran, ucapan kita dari hal-hal yang dilarang oleh Allah s.w.t.. Dengan menjaga hal-hal tersebut kita dapat menjaga kebersihan hati kita. Dengan hati yang bersih kita akan dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Rasa kehambaan.
Rasa kehambaan ialah rasa yang perlu ada di dalam hati seorang hamba Allah terhadap Tuhan-Nya. Antara rasa itu ialah rasa miskin, jahil, lemah, bersalah, hina dan lain-lain lagi. Bila diuji dengan kesakitan, kemiskinan, cercaan misalnya, seorang yang memiliki rasa kehambaan nampak segala-galanya itu datang daripada Allah. 
Firman Allah maksudnya :
“Katakanlah (Muhammad), tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakal orang-orang yang beriman.” 
(Surah At Taubah ayat 51)

Seorang hamba akan pasrah dan merasakan bahawa dia wajar diuji. Bukankah dia seorang hamba? Dia akur dengan apa yang berlaku dan tidak mempersoalkan mengapa aku yang diuji? Kenapa aku, bukan orang lain? Ini samalah dengan mempersoalkan Allah yang mendatangkan ujian itu. Menerima hakikat bahawa kita layak diuji akan menyebabkan hati menjadi tenang. Jika kita “memberontak” hati akan bertambah kacau.

Sahabat yang dimuliakan,
Imam Ghazali rhm pernah menyatakan bahawa cukuplah seseorang hamba dikatakan sudah “memberontak” kepada Tuhannya apabila dia menukar kebiasaan-kebiasaan dalam hidupnya apabila diuji Allah dengan sesuatu yang tidak disukainya. Misalnya, dia tidak lalu mahu makan-minum secara teratur, tidak mandi, tidak menyisir rambut, tidak berpakaian kemas, tidak mengemaskan misai dan janggut dan lain-lain yang menjadi selalunya menjadi rutin hidupnya. Ungkapan mandi tak basah, tidur tak lena, makan tak kenyang adalah satu “demonstrasi” seorang yang sudah tercabut rasa kehambaannya apabila diuji.

Bila ditimpa ujian kita diajar untuk mengucapkan kalimah istirja’ – innalillah wa inna ilaihi rajiun.
Firman Allah s.w.t maksudnya :  “…Iaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-nyalah kami kembali.” 
(Surah Al Baqarah ayat 156)

Mengapa kita diperintahkan mengucapkan istirja’? Kalimah ini sebenarnya mengingatkan kita agar kembali merasakan rasa kehambaan. Bahawa kita adalah hamba milik Allah dan kepada-Nya kita akan dikembalikan. Kita layak, patut dan mesti diuji kerana kita hamba, bukan tuan apalagi Tuhan dalam hidup ini.

Rasa berTuhan.
Rasa kehambaan yang serba lemah, miskin, kurang dan jahil itu mesti diimbangi oleh rasa bertuhan. Bila kita rasa lemah timbul pergantungan kepada yang Maha Kuat. Bila kita rasa kurang timbul pengharapan kepada yang Maha Sempurna. Bila miskin, timbul rasa hendak meminta kepada yang Maha Kaya. Rasa pengharapan, pengaduan dan permintaan hasil menghayati sifat-sifat Allah yang Maha Sempurna itulah yang dikatakan rasa berTuhan.

Jika rasa kehambaan menyebabkan kita takut, hina, lemah sebaliknya rasa berTuhan akan menimbulkan rasa berani, mulia dan kuat. Seorang hamba yang paling kuat di kalangan manusia ialah dia yang merasa lemah di sisi Allah. Ketika itu ujian walau bagaimana berat sekalipun akan mampu dihadapi kerana merasakan Allah akan membantunya. Inilah rasa yang dialami oleh Rasulullah s.a.w. yang menenteramkan kebimbangan Sayidina Abu Bakar ketika bersembunyi di gua Thaur dengan katanya, “La tahzan innallaha maana – Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita!”

Rasa berTuhan inilah yang menyebabkan para Nabi dan Rasul, mujaddid dan mujtahid, para mujahid dan murabbi sanggup berdepan kekuatan majoriti masyarakat yang menentang mereka mahupun kezaliman pemerintah yang mempunyai kuasa. Tidak ada istilah kecewa dan putus asa dalam kamus hidup mereka. Do'a adalah senjata mereka manakala solat dan sabar menjadi wasilah mendapat pertolongan Allah. Firman Allah s.w.t. maksudnya :
“Dan pohonlah pertolongan dengan sabar dan solat.” (Surah Al Baqarah.)

Dalam apa jua keadaan, positif mahupun negatif, miskin ataupun kaya, berkuasa ataupun rakyat biasa, tidak dikenali ataupun popular, hati mereka tetap tenang. Firman Allahs.w.t. maksudnya :
“Dialah Tuhan yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang yang beriman, supaya keimanan mereka makin bertambah daripada keimanan yang telah ada. Kepunyaan Allah tentang langit dan bumi, dan Allah itu Maha Tahu dan Bijaksana.” 
(Surah Al Fathu ayat  4).

Bila hati tenang berlakulah keadaan yang dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w  melalui sabdanya yang bermaksud : "Amat menarik hati keadaan orang beriman, semua pekerjaannya baik belaka, dan itu ada hanya pada orang beriman: Jika memperoleh kesenangan, dia bersyukur. Dan itu memberikannya kebaikan (pahala). Jika ditimpa bahaya (kesusahan), dia sabar dan itu juga memberikannya kebaikan.”

Memahami maksud takdir Allah.
Mana mungkin kita mengelakkan daripada diuji kerana itu adalah takdir Allah s.w.t.. Yang mampu kita buat hanyalah meningkatkan tahap kebergantungan kita kepada Allah di samping berusaha sedaya upaya menyelesaikan masalah itu. Ungkapan yang terkenal: "Kita tidak mampu mengawal arah tiupan angin, kita hanya mampu mengawal kemudi pelayaran kita."

Kemudi dalam pelayaran kehidupan kita hati. Hati yang bersifat bolak-balik (terutamanya bila diuji) hanya akan tenang bila kita beriman kepada Allah – yakin kepada kasih-sayang, keampunan dan sifat pemurah-Nya. Dalam apa jua takdir yang ditimpakan-Nya ke atas kita adalah bermaksud baik sekalipun kelihatan negatif. Baik dan buruk hanya pada pandangan kita yang terbatas, namun pada pandangan-Nya yang Maha luas, semua yang ditakdirkan ke atas hamba-Nya pasti bermaksud baik.

Tidak salah untuk kita menyelesaikan masalah yang menimpa (bahkan kita dituntut untuk berbuat demikian), namun jika masalah itu tidak juga dapat diselesaikan, bersangka baik kepada Allah berdasarkan firman-Nya yang bermaksud : “Ada perkara yang kamu tidak suka tetapi ia baik bagi kamu dan ada perkara yang kamu suka tetapi ia buruk bagi kamu, Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan kamu tidak mengetahuinya”
(Surah Al Baqarah ayat 216)

Seorang ahli hikmah, Ibn Atoillah menjelaskan hakikat ini menerusi katanya, “Barang siapa yang menyangka sifat kasih sayang Allah terpisah dalam takdir-Nya, maka itu adalah kerana pendeknya penglihatan akal dan mata hati seseorang.”

Siapa tidak inginkan kekayaan, malah kita dituntut mencari harta. Namun jika setelah berusaha sedaya upaya, masih miskin juga, bersangka baiklah dengan Tuhan . Mungkin itu caranya untuk kita mendapat pahala sabar. Begitu juga kalau kita ditakdirkan kita tidak berilmu, maka berusahalah untuk belajar, kerana itulah maksud Allah mentakdirkan begitu.

Kalau kita berkuasa, Allah inginkan kita melaksanakan keadilan. Sebaliknya, kalau kita diperintah (oleh pemimpin yang baik), itulah jalan untuk kita memberi ketaatan. Rupanya cantik kita gunakan ke arah kebaikan. Bersyukurlah kita terselamat daripada fitnah dan godaan. Ya, dalam apa jua takdir Allah, hati kita dipimpin untuk memahami apa maksud Allah di sebalik takdir itu.

Jadi, kita tidak akan merungut, stres dan tertekan dengan ujian hidup. Hayatilah kata-apa yang ditulis oleh Ibnu Atoillah ini:
“Untuk meringankan kepedihan bala yang menimpa, hendak dikenal bahawa Allah-lah yang menurunkan bala itu. Dan yakinlah bahawa keputusan (takdir) Allah itu akan memberikan yang terbaik.”

Tadbirlah hidup kita sebaik-baiknya, namun ingatlah takdir Tuhan sentiasa mengatasi tadbir insan. Jangan cuba mengambil alih “kerja Tuhan” yakni cuba menentukan arah angin dalam kehidupan ini tetapi buatlah kerja kita, yakni mengawal pelayaran hidup kita dengan meningkatkan iman dari semasa ke semasa.

Mendapat hikmah bila diuji.
Hikmah adalah sesuatu yang tersirat di sebalik yang tersurat. Hikmah dikurniakan sebagai hadiah paling besar dengan satu ujian. Hikmah hanya dapat ditempa oleh “mehnah” – didikan langsung daripada Allah melalui ujian-ujian-Nya.
Rasulullah s.a.w. bersabda maksudnya : “Perumpamaan orang yang beriman apabila ditimpa ujian, bagai besi yang dimasukkan ke dalam api, lalu hilanglah karatnya (tahi besi) dan tinggallah yang baik sahaja!”

Jika tidak diuji, bagaimana hamba yang taat itu hendak mendapat pahala sabar, syukur, reda, pemaaf, qanaah daripada Tuhan? Maka dengan ujian bentuk inilah ada di kalangan para Rasul ditingkatkan kepada darjat Ulul Azmi – yakni mereka yang paling gigih, sabar dan berani menanggung ujian. Ringkasnya, hikmah adalah kurnia termahal di sebalik ujian buat golongan para Nabi, Siddiqin, Syuhada dan Solihin ialah mereka yang sentiasa diuji.

Firman Allah s.w.t maksudnya : "Apakah kamu mengira akan masuk ke dalam Syurga sedangkan kepada kamu belum datang penderitaan sebagaimana yang dideritai orang-orang terdahulu daripada kamu, iaitu mereka ditimpa kesengsaraan, kemelaratan dan kegoncangan, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya merintih: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”
(Surah al-Baqarah ayat 214)

Pendek kata, bagi orang beriman, ujian bukanlah sesuatu yang negatif kerana Allah sentiasa mempunyai maksud-maksud yang baik di sebaliknya. Malah dalam keadaan berdosa sekalipun, ujian didatangkan-Nya sebagai satu pengampunan. Manakala dalam keadaan taat, ujian didatangkan untuk meningkatkan darjat.

Justeru, telah sering para muqarrabin (orang yang hampir dengan Allah) tentang hikmah ujian dengan berkata: “Allah melapangkan bagi mu supaya engkau tidak selalu dalam kesempitan dan Allah menyempitkan bagi mu supaya engkau tidak hanyut dalam kelapangan, dan Allah melepaskan engkau dari keduanya, supaya engkau tidak bergantung kepada sesuatu selain Allah."

Apabila keempat-empat perkara ini dapat kita miliki maka hati akan sentiasa riang, gembira dan tenang dengan setiap pekerjaan yang dilakukan. Sentiasa melakukan kerja amal, tolong menolong, bergotong royong, sentiasa bercakap benar, sopan dan hidup dengan berkasih sayang antara satu dengan lain.

Marilah kita bersihkan hati kita dari segala kotorannya dengan memperbanyak zikrullah. Itulah satu-satunya jalan untuk mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti. Manusia perlukan zikir umpama ikan perlukan air. Tanpa zikir, hati akan mati. Tidak salah memburu kekayaan, ilmu, nama yang baik, pangkat yang tinggi tetapi zikrullah mestilah menjadi teras dan asasnya.

Insya Allah, dengan zikrullah hati kita akan lapang sekalipun duduk di dalam pondok yang sempit apatah lagi kalau tinggal di istana yang luas. Inilah bukti keadilan Allah kerana meletakkan kebahagiaan pada zikrullah .Sesuatu yang dapat dicapai oleh semua manusia tidak kira miskin atau kaya, berkuasa atau rakyat jelata, hodoh atau jelita. Dengan itu semua orang layak untuk bahagia asalkan tahu erti dan melalui jalan yang sebenar dalam mencarinya. Rupa-rupanya yang di cari terlalu dekat… hanya berada di dalam hati sendiri!
(Di petik daripada tulisan  Ustaz Pahrol)

source: http://abubasyer.blogspot.com/search/label/Ketenangan%20hati

9 Mimpi Nabi Muhammad SAW

Daripada Abdul Rahman Bin Samurah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda:
"Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi-mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan........"

1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah di datang oleh malaikatul maut dengan keadaan yg amat mengerunkan untuk mengambil nyawanya,maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA.

2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA YANG SEMPURNA.

3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis lakhnatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS kepada Allah.

4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikut Ahzab,tetapi SOLATNYA YANG KHUSUK DAN TIDAK MENUNJUK-NUNJUK telah melepaskannya dari seksaan itu.

5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga di halang dari meminumnya,ketika itu datanglah pahala PUASANYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT memberi minum hingga ia merasa puas.

6. Aku melihat umatku cuba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka menjelmalah MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA sambil ke kumpulanku seraya duduk disebelahku.

7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadan gelap gelita di sekelilingnya, sedangkan dia sendiri di dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang-benderang.

8. Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidak pun membalas bicaranya,maka menjelmalah SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya,lalu berbicara mereka dengannya.

9. Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukanya, maka segeralah menjelma pahala SEDEKAHNYA YANG IKHLAS KERANA ALLAH SWT lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut.

Ahad, 9 Disember 2012


Demi Allah, Aku Tidak Akan Menyentuhmu…


Sebuah komik yang mengisahkan kemuliaan hati seorang lelaki muslim yang cintakan Allah. Komik ini diadaptasi dari kisah benar yang..
A student was once studying in Delhi. The night had already set in, as he sat alone in the mosque. Studying by the lamp’s flame.
In the same locality a young lady was on her way to visit some relatives. However, a riot broke out and the street were not longer safe..
The young lady could find no place of refuge except this very mosque.
When the student saw her, he ordered her to leave immediately.
He told her ”it is not appropriate for you to remain here because if the local people see you here then this will be a cause for my disgrace,they will remove me from the masjid and this will cause harm to my studies. A riot has broken out in the locality and if I leave the masjid I fear that I whould be dishonored.
Upon hearing these words, the student kept quiet and asked her to sit in one corner. Thereafter the student returned to his corner and engaged himself in studying the whole night.
While studying he whould momentarily place his finger-tip on the flame of his lamp.
The young lady had been carefully observing this.
Slowly the night has brunt away. At the break of dawn, the student told the young lady. ”The riot has subsided and the road is safe. Let me take you to your home.” The young lady said. ”I will not return home until you reveal to me, the secret for repeatedly placing your finger tip on the flame of your lamp.” The student said, ”You should not concern yourself with that.”
Nevertheles, the young lady persisted in her request . The student finally said, ”The devil repeatedly whispered into my heart and encouragedme to do evil with you. Hence I placed my finger tip on the flame and addressed myself thus:
‘When you cannot bear the heat of the fire of this world, then how will you ever bear the painful fire of jahannum?.. Allah, though His Grace protected me. Hearing this, the young lady returned home.
She was the daughter of a weathly person and she was about to be engaged to the son of another weathly person.
After this incident she refused the proposal and said: ”I desire to marry a certain student who lives in such and such a masjid.” Her parents and relatives started to convince her and many began entertaining bad thoughts about her. When she observed this, she explained to them the entire incident..and said ”I will only marry him because he has the fear of Allah in this heart. And whoever fear Allah cannot harm to anyone.”
Finally , they were wed and Allah made them prosper.. 15) People marry for Four reasons, Beauty, Weath..
<